21 Jun 2010

Hello world!

Author: murianim08 | Filed under: Academic

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

20 Jun 2010

komkel

Author: murianim08 | Filed under: Academic
  1. I. Pendahuluan

I.1        Latar Belakang

Pembentukan kelompok kecil (small groups) di Indonesia awalnya bertujuan untuk mempercepat proses pembangunan masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Suatu kelompok umumnya terbentuk karena memiliki latar belakang, kepentingan, serta tujuan yang sama. Kelompok-kelompok ini juga tidak serta-merta terbentuk. Butuh serangkaian proses yang cukup panjang sebelum kelompok tersebut dapat benar-benar mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Menurut Bruce W. Tuckman (1965) ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh sebuah kelompok dalam proses pembentukannya. Tahapan-tahapan tersebut antara lain forming, storming, norming, performing, dan adjourning.

Hal inilah yang coba kami amati pada Serikat Petani Indonesia (SPI) basis Cibeureum. Kelompok ini merupakan bagian dari Serikat Petani Indonesia yang kini berpusat di Jakarta. Pada awalnya kelompok ini terbentuk untuk mewadahi aspirasi serta sarana bertukar informasi bagi para petani di daerah Cibeureum. Dalam perkembangannya kelompok ini bergabung dengan Serikat Petani Indonesia agar memperoleh posisi tawar yang lebih tinggi.

I.2        Perumusan Masalah

  1. Bagaimana proses pembentukan kelompok pada Serikat Petani Indonesia Basis Cibeureum?
  2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pembentukan kelompok Serikat Petani Indonesia basis Cibeureum?
  3. Kendala apa saja yang terjadi dalam kelompok Serikat Petani Indonesia basis Cibeureum?
  4. Bagaimana teknik penyelesaian masalah dalam kelompok Serikat Petani Indonesia Basis Cibeureum?

I.3 Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui proses pembentukan kelompok pada Serikat Petani Indonesia Basis Cibeureum.
  2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kelompok Serikat Petani Indonesia basis Cibeureum.
  3. Mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam kelompok Serikat Petani Indonesia basis Cibeureum.
  4. Mengetahui teknik penyelesaian masalah yang digunakan dalam kelompok Serikat Petani Indonesia Basis Cibeureum.

II. PEMBAHASAN

II.1       Profil  Serikat Petani Indonesia

Serikat Petani Indonesia(SPI) pada awalnya bernama Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Organisasi ini dideklarasikan tanggal 8 juli 1998 di Kampung Dolok Maraja, Desa Lobu Ropa, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara oleh sejumlah pejuang petani Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi organisasi perjuangan kaum tani semakin besar. Kekuatan kapitalis neoliberal semakin meminggirkan rakyat dan kaum tani, sehingga timbul kesadaran untuk mengkonsolidasikan kembali gerakan petani. Dalam kondisi seperti itu, muncul keinginan untuk mengubah bentuk dan struktur organisasi dari yang semula berwatak federatif menjadi organisasi kesatuan.

Wilayah kerja Serikat Petani Indonesia (SPI) adalah di seluruh wilayah Indonesia. Serikat Petani Indonesia yang berada di wilayah Bogor terbagi menjadi 14 basis (desa). Serikat Petani Indonesia terdiri dari petani penggarap, petani upahan, dan petani gurem (memiliki tanah < 0.5 ha). Pemasaran hasil pertanian yang ada SPI ada yang langsung dipasarkan melalui supplier dan ada yang langsung (pemesanan). Pemasarannya berada di bawah kontrol koperasi SPI. SPI terdiri dari usaha kelompok (kelompok tani) dan usaha perseorangan. Pembenihan dilakukan sendiri oleh SPI dan kemudian akan didistribusikan kepada petani yang terlibat di SPI. Sehingga diharapkan dengan adanya SPI dapat mempermudah dalam hal perolehan benih, pupuk, dan hal-hal yang diperlukan dalam proses produksi. Hal yang saat ini sedang dilakukan oleh SPI adalah pemuliaan tanaman. Advokasi yang sudah dilakukan oleh SPI adalah mengenai identifikasi permasalahan irigasi. Lembaga yang terlibat dengan SPI adalah lembaga yang focus pada permasalahan agrarian seperti, SAINS (Sajogyo Institut, JKPP (Jaringan Konsorsium Pemetaan Partisipatif), dan (Solidaritas Perempuan).

II.1.1 Tujuan Mendirikan SPI desa Cibeureum
Tujuan Sosial-Ekonomi SPI Desa Cibereum
  1. Terjadinya perombakan, pembaruan, pemulihan dan penataan pembangunan ekonomi nasional, agar tercipta peri kehidupan ekonomi petani desa Cibeureum yang mandiri, adil dan makmur, secara lahir dan batin, material dan spiritual; baik dalam kebijakan maupun dalam kenyataan hidup sehari-hari
  2. Bahwa peri kehidupan ekonomi yang mandiri, adil dan makmur tersebut hanya dapat dicapai jika terjadi tatanan agraria yang adil dan beradab
  3. Tatanan agraria yang adil dan beradab tersebut hanya dapat terjadi jika dilaksanakan Pembaruan Agraria Sejati oleh petani, rakyat, bangsa, dan negara
Tujuan Sosial-Budaya desa Cibeureum.
  1. Terjadinya perombakan, pembaruan, pemulihan dan penataan model pembangunan kebudayaan nasional, agar tercipta peri kehidupan budaya yang berkemanusiaan, adil dan beradab
  2. Peri kehidupan kebudayaan tersebut hanya dapat dicapai jika petani desa Cibeureum mengembangkan kebudayaan yang berkepribadian, mempunyai harkat, martabat dan harga diri baik dalam kebijakan maupun dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam pergaulan nasional.

II.1.2    Program dan Kegiatan SPI

  1. Melakukan berbagai bentuk pendidikan/kaderisasi bagi anggota
  2. Mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berbagai informasi yang berguna bagi petani dan anggota
  3. Membangun kehidupan ekonomi anggota yang mandiri dan berdaulat dengan prinsip koperasi yang sejati
  4. Pengerahan Massa Aksi untuk melakukan Aksi Massa sebagai salah satu kekuatan utama SPI
  5. Melakukan pembelaan  bagi anggota yang dilanggar hak asasinya sebagai manusia, hak asasinya sebagai petani dan haknya sebagai warga negara
  6. Memperbanyak jumlah anggota, mendorong serta memperkuat kerjasama di antara sesama anggota
  7. Memperkuat kepengurusan mulai dari pusat hingga basis
  8. Melakukan kerjasama dan solidaritas yang saling  memperkuat dengan organisasi tani dan organisasi rakyat lainnya yang mempunyai pandangan, asas dan tujuan yang sejalan dengan SPI, baik di tingkat nasional maupun ditingkat internasional
  9. Mendorong dan mendukung lahirnya organisasi rakyat lainnya yang sejalan dengan SPI
  10. Menjalin hubungan setara dengan lembaga dan aparatur negara yang bersifat kritis baik didalam maupun diluar negeri sepanjang tidak bertentangan dengan pandangan, asas, tujuan dan kepentingan SPI

II.2       Proses Pembentukan kelompok SPI basis Cibeureum

Menurut Bruce W. Tuckman (1965) ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh sebuah kelompok dalam proses pembentukannya. Tahapan-tahapan tersebut antara lain forming, storming, norming, performing, dan adjourning.

Tahap forming

Tahap ini ditandai oleh saling ketergantungan antar anggota kelompoknya untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara bersama-sama.Tahap forming pada SPI ini akibat dari sekelompok petani Indonesia untuk memperoleh kebebasan dalam menyuarakan pendapat, berkumpul dan berorganisasi guna memperjuangkan hak-haknya yang telah ditindas dan dihisap oleh rejim orde baru selama 33 tahun. Serikat Petani Indonesia(SPI) pada awalnya bernama Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Organisasi ini dideklarasikan tanggal 8 juli 1998 di Kampung Dolok Maraja, Desa Lobu Ropa, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara oleh sejumlah pejuang petani Indonesia. Petani Cibereum ingin bergabung ke dalam SPI  karena ajakan dari Bapak basri yang merupakan ketua SPI basis Cibereum.

Tahap Storming.

Tahap ini di tandai oleh munculnya klik-klik atau kelompok kecil pemicu konflik dalam sebuah kelompok. Tahap storming pada SPI ini adalah munculnya konflik berupa lahan sewa yang digarapan para petani yaitu para petani mendapatkan lahan garapan sesuai dengan keinginannya. Pola tanam juga menjadi konflik dalam SPI Cibereum karena pada awalnya sebagian petani ingin menyeragamkan tanaman yang akan ditanam, akan tetapi SPI menyarankan petani menanam tanaman yang berbeda-beda.

Tahap norming.

Tahap ini di tandai dengan adanya atau di bentuknya aturan-aturan kepada seluruh anggota kelompok, dan klik-klik yang ada di bubarkan. Tahap norming pada SPI adalah pembentukan aturan oleh pihak SPI sendiri berupa kebebasan dalam menggarap lahan garapan para petani dan  mempermudah sistem pemasaran yang di bantu oleh SPI. SPI memberikan kebebasan dalam menggarap lahan dan menanam tanaman yang berbeda agar terhindar dari kegagalan panen atas semua produk yang dihasilkan. SPI juga mempunyai aturan agar bibit yang dibagikan kepetani tersebar rata. Aturan juga diatur dalam SOP dalam SPI itu sendiri

Tahap performing.

Tahap performing ini di tandai dengan adanya saling ketergantungan antar kelompok tersebut dengan anggota kelompok lain. Dalam kelompok petani SPI Cibeurem ini tahap performing ditandai dengan saling ketergantungan para petani nya kepada pihak SPI baik dari sisi penyedia input pertanian bibit dan pupuk serta pada system pemasaran produk pertaniannya.

Tahap adjourning

Tahap adjourning ini di tandai dengan adanya proses istirahat suatu kelompok dan .memberikan suatu apresiasi dan penghargaan bagi para anggotannya. Pada kelompok SPI desa Cibeureum belum mencapai tahap adjourning, karena kelompok SPI desa Cibeureum masih terus berlanjut di kemudian hari.

II.3       Faktor yang mempengaruhi Proses Pembentukan SPI Desa Cibereum

Proses Pembentukan desa Cibereum tidak terbentuk secara instan. Faktor utama terbentuknya SPI Desa Cibereum adalah keinginan para petani untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Selama ini petani di desa Cibereum keadaan perekonomiannya tidak sejahtera, oleh sebab itu para petani bergabung ke dalam SPI.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah petani Cibereum ingin mendapatkan pupuk secara mudah dengan harga yang terjangkau. pada saat ini pupuk sangat langka sekali, para petani di desa Cibereum susah mendapatkan pupuk dan bila ada persediaan pupuk harganya sangat mahal. Oleh sebab itu pihak SPI memiliki upaya mempermudah para petani dengan mendapatkan pupuk yang baik untuk hasil yang baik pula.

SPI memiliki pelatihan pada petani dalam pembuatan pupuk kompos merupakan faktor yang juga mempengaruhi pembentukan SPI. Hal ini sangat menarik bagi petani karena dengan kemampuan sendiri membuat kompos para petani bisa membuat pupuk sendiri untuk keperluan bertaninya. Pembuatan pupuk kompos ini juga mempunyai manfaat yang sangat penting yaitu menggunakan kembali bahan-bahan yang sudah tidak terpakai seperti tanaman yang sudah layu dapat diolah menjadi bahan yang sangat berguna untuk menyuburkan tanaman. Pembuatan pembuatan pupuk kompos ini juga dapat mengurangi biaya produksi petani untuk pupuk sehingga petani tidak begitu merasakan dampak dari kelangkaan pupuk dan kenaikan harga pupuk.

Faktor terakhir yang mempengaruhi pembentukan SPI desa Cibeureum adalah memudahkan para petani dalam pemasaran. Pada awalnya petani-petani desa Cibeureum sebelum bergabung dengan SPI masih memiliki kesulitan untuk pemasaran produknya dipasaran. Terkadang mereka harus berhadapan dengan para tengkulak yang sangat merugikan. Sebenarnya keberadaan tengkulak itu tidak selalu jelek, ada sisi baik dari tengkulak yaitu menampung hasil produk petani yang jumlahnya sedikit dan sulit untuk dipasarkan. Akan tetapi kebanyakan tengkulak sangat merugikan petani yaitu membeli hasil produk petani dengan harga yang sangat murah dan hal tersebut tidak layak didapat oleh para petani. Petani desa Cibereum ingin menjadi anggota SPI dengan harapan produk yang mereka hasilkan dapat dipasarkan dan dengan harga ynag sesuai sehingga mereka tidak perlu berhadapan dengan para tengkulak yang sangat merugikan.

II.4       Kendala yang terjadi dalam kelompok SPI basis Cibeureum

SPI Cibereum terdiri dari 15 basis dan satu basis terdiri dari 15 orang petani yang sudah merupakan kelompok besar. SPI ini termasuk suatu kelompok besar sehingga terdapat kendala dalam mengkoordinasikannya dan terkadang terjadi miss communication antara basis-basis tersebut. Terkadang suka ada petani yang malas dalam mengikuti rapat karena SPI Cibereum ini mengadakan  pertemuan rutin yaitu satu bulan dua kali. Pertemuan ini termasuk pertemuan dari pihak SPI dan petani di basis (desa) yang ada di daerah Bogor.

Selain kendala jumlah anggota, ada kendala eksternal yang dihadapi oleh SPI Cibereum yaitu kendala pemasaran. Terkadang hasil pemasaran ini belum begitu luas sehingga masih menjadi hambatan SPI Cibereum. Pemasaran adalah hal yang penting dalam menjaga keberlangsungan hidup petani.

Kendala internal yang dihadapi oelh SPI Cibereum adalah kendala pola tanam yang kurang teratur sehingga produk yang dihasilkan mengalami naik turun. Hal-hal tersebut Kendal;a-kendala yang biasa dihadapi dalam jangka pendek.

Kendala jangka panjang yang dihadapi SPI adalah kendala lahan karena lahan yang dimiliki SPI sekitar 2 ha sehingga lahan SPI  harus digabung dengan anggota petani untuk mencukupi permintaan.

II.5 Teknik penyelesaian masalah Serikat Petani Indonesia Basis Cibeureum

Teknink penyelesaian masalah SPI desa Cibeureum ini meliputi teknik pendekatan deskitif yaitu dengan cara melakukan perkumpulan rutin di desa Cibeurem. Perkumpulan ini bertujuan untuk mencoba mengetahui permasalahan petani satu sama lain dan berusaha untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Teknik ini sangat akurat menurut nara sumber karena dalam perkumpulan rutin ini masalah yang dihadapi pihak SPI maupun para petani desa Cibeireum ini bisa sedikit teringankan karena masalah dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Teknik penyelesaian masalah berikunya dalam SPI desa Cibeurem ini adalah penyaluran bibit unggul bagi varietas sayuran dari SPI cabang bogor. Dulu sebelum masuk dalam SPI, petani desa Cibeureum masih kesulitan untuk memperoleh bibit yang baik dan hasil yang di produksi masih kurang memuaskan. Teknik penyaluran bibit unggul ini dapat meningkatkan produktifitas petani desa Cibeureum.

Teknik penyelesaian yang terakhir dalam SPI desa Cibeureum ini adalah dengan melakukan pelatihan-pelatihan bagi para petani bagaimana cara pemupukan yang baik dan mengasilkan benih yang baik dari panen sendiri. Ini penting dilakukan oleh pihak SPI karena ini dapat meningkatkan keterampilan para petani dan dapat lebih mandiri dalam mengelola lahan garapannya.

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme